Connie BakrieKOPI TOEBROEKMedsosOpiniU T A M A

Connie Rahakundini: Menghadapi Bahaya Alarmisme dengan Bijaksana

Pada masa lalu, kepercayaan masyarakat terhadap seseorang berasal dari integritas individu tersebut, bukan dari gelar atau jabatan mereka. Biasanya, orang-orang ini adalah pemimpin masyarakat seperti ulama, rohaniawan, tokoh adat, guru, atau negarawan yang memiliki pengalaman luas. Saat ini, otoritas moral dan intelektual seringkali dikaitkan dengan individu yang memiliki latar belakang akademis atau pengalaman profesional yang luas. Namun, satu hal yang tetap tidak berubah adalah bahwa otoritas pengetahuan hanya dapat dipertahankan jika didukung oleh integritas.

Menghadapi Bahaya Alarmisme

Pengetahuan tanpa integritas hanyalah opini yang telah dipoles dan dapat dengan mudah berubah menjadi propaganda. Hal ini menjadi jelas saat publik disuguhi dengan kontroversi yang melibatkan Connie Rahakundini Bakrie, seorang pengamat militer terkenal. Walaupun Connie adalah wanita yang sangat berprestasi dan memiliki latar belakang pendidikan yang luar biasa, namanya seringkali menjadi sorotan karena pernyataannya yang kontroversial.

Pada Maret 2024, Connie membuat kegaduhan publik dengan menyatakan bahwa kepolisian memiliki akses ke sistem rekapitulasi suara pemilihan umum dan dapat melakukan manipulasi. Pernyataan ini segera menimbulkan kecurigaan publik dan laporan dipaparkan ke kepolisian. Meskipun Connie kemudian meralat pernyataannya, kerusakan sudah terjadi dan koreksi tidak selalu mampu menghapus dampak awal dari sebuah pernyataan.

Alarmisme dan Integritas

Kontroversi lainnya muncul ketika Connie dituduh mencemarkan nama baik oleh Ketua Tim Nasional Kampanye Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, setelah video pernyataannya beredar di media sosial. Selain itu, Connie juga mengklaim memiliki puluhan dokumen rahasia yang disebut sebagai “bom waktu”. Namun, hingga saat ini, “bom waktu” tersebut belum pernah meledak.

Dalam dunia akademis yang sehat, klaim seperti itu seharusnya didukung oleh bukti yang dapat diverifikasi. Tanpa bukti, klaim tersebut hanya akan menjadi sensasi. Ini adalah contoh dari “alarmisme”, yaitu tindakan menyebarkan ketakutan secara berlebihan melalui rumor bahaya yang akan datang.

Menyikapi Alarmisme

Di era media sosial, “alarmisme” sering lebih populer dibandingkan dengan analisis yang tenang dan berdasarkan data. Narasi yang dramatis dengan cepat menyebar dan mudah memanipulasi ketakutan publik. Sementara itu, klarifikasi biasanya datang terlambat, ketika keraguan sudah menyebar luas.

Krisis integritas dalam otoritas pengetahuan menjadi masalah utama di sini. Masyarakat awam tidak memiliki waktu untuk memeriksa setiap klaim para pakar dan mereka mengandalkan reputasi orang yang berbicara. Jika seorang pengamat militer mengatakan ada ancaman perang, masyarakat bisa menjadi cemas. Jika seorang ekonom mengatakan negara bisa bangkrut, pasar bisa panik.

Ini mengapa disiplin intelektual adalah tanggung jawab publik. Seorang akademisi atau pengamat mungkin memiliki opini politik atau pandangan yang keras, namun mereka harus berbicara berdasarkan fakta yang dapat diverifikasi. Tanpa itu, batas antara analisis dan rumor menjadi kabur.

Berbicara dengan Integritas

Sebagai jurnalis, kita diajarkan bahwa verifikasi lebih penting daripada sensasi. Reputasi dibangun oleh ketelitian, bukan oleh dramatisasi. Pepatah lama yang mengatakan “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya” masih relevan hingga sekarang. Pepatah ini mungkin terdengar kejam, tetapi hal tersebut menggambarkan realitas sosial bahwa kepercayaan publik bisa runtuh hanya karena beberapa pernyataan yang terburu-buru.

Integritas adalah hal yang sangat penting dalam menyampaikan pengetahuan. Tanpa integritas, pengetahuan hanya akan menjadi opini dan rumor. Karena itu, kita harus selalu berusaha untuk berbicara dengan integritas dan menghadapi bahaya alarmisme dengan bijaksana.

Back to top button