Pemkot Surabaya Tingkatkan Kampung Pancasila dengan 12 Ribu ASN dan Pemuda di 1.361 RW

Dalam upaya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong yang menjadi pilar utama masyarakat, Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan program Kampung Pancasila. Program ini melibatkan sekitar 12.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pemuda untuk mendampingi 1.361 Rukun Warga (RW) di seluruh kota. Melalui inisiatif ini, Pemkot berkomitmen untuk memperkuat solidaritas sosial di tingkat komunitas, suatu usaha yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Kota Pahlawan.
Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila
Pemkot Surabaya menyadari bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat, termasuk berbagai elemen sosial. Dengan melibatkan ASN dan pemuda, pemerintah daerah berusaha memastikan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila dapat direalisasikan secara konkret di setiap sudut kota.
Peluncuran Resmi Kampung Pancasila 2026
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmen ini saat peluncuran program Kampung Pancasila 2026 yang diadakan di RW 2 Krembangan Bhakti, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan. Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas agama, organisasi kemasyarakatan, serta perwakilan dari seluruh RW yang mengikuti secara daring.
Pentingnya Budaya Gotong Royong
Menurut Wali Kota Eri, budaya gotong royong adalah kekuatan utama masyarakat Surabaya yang telah ada sejak lama. Ia mengingatkan bahwa sejak dekade 1960-an, kota ini dibangun di atas fondasi kekeluargaan dan toleransi yang tinggi.
“Toleransi yang tinggi ini adalah hal yang harus kita pertahankan dan teruskan. Oleh karena itu, Kampung Pancasila tidak boleh berhenti di level slogan, tetapi harus terwujud dalam praktik sehari-hari,” tegas Eri.
Peran Aktif Masyarakat dalam Pembangunan
Eri Cahyadi menekankan bahwa untuk mencapai kesejahteraan Surabaya, peran aktif masyarakat, terutama generasi muda, sangatlah penting. Ia memberikan contoh pada praktik distribusi zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) yang diterapkan pada masa kepemimpinan Sayyidina Utsman bin Affan. Menurutnya, konsep tersebut masih relevan untuk diterapkan saat ini.
Praktik Kesejahteraan Kolektif
“Di zaman Sayyidina Utsman, masyarakat yang mampu mengeluarkan zakat dan infaq mereka, disatukan dan disalurkan kepada yang membutuhkan di kampung mereka,” ujar Eri, menyoroti pentingnya kolaborasi dalam menciptakan kesejahteraan bersama.
Penguatan Berbagai Bidang melalui Kampung Pancasila
Program Kampung Pancasila bertujuan untuk memperkuat berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk lingkungan, sosial budaya, kemasyarakatan, dan ekonomi. Wali Kota Eri mengajak warga untuk memulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah awal yang dapat menciptakan nilai ekonomi dan mendukung kegiatan sosial.
Inisiatif Lingkungan dan Ekonomi
“Bayangkan jika setiap RW memisahkan sampah, lalu menjual botol plastik tersebut. Itu bisa menghasilkan dana yang masuk ke kas RW untuk kegiatan sosial,” jelasnya.
Di sisi sosial budaya, program ini juga bertujuan untuk memperkuat solidaritas antarwarga, terutama dalam membantu masyarakat yang kurang mampu melalui mekanisme gotong royong.
Pentingnya Penyaluran Bantuan yang Tepat Sasaran
Eri menegaskan bahwa penyaluran bantuan harus tepat sasaran dan mengutamakan kebutuhan warga yang ada di RW setempat. Ia mengingatkan bahwa seringkali masyarakat enggan menyalurkan bantuan mereka langsung kepada RW, tetapi melalui lembaga lain yang kadang tidak memberikan manfaat langsung kepada warga di lingkungan mereka.
Menyelesaikan Persoalan di Tingkat RW
Setiap permasalahan, seperti fasilitas umum atau pendidikan anak, seharusnya bisa diselesaikan di tingkat RW dengan dukungan pemerintah. Namun, hal ini mensyaratkan adanya laporan aktif dari masyarakat, termasuk dari Kader Surabaya Hebat (KSH), PKK, dan pengurus RT/RW.
Peran ASN sebagai Pendamping
Wali Kota Eri berharap setiap RW akan didampingi oleh ASN untuk memastikan bahwa segala permasalahan dapat ditangani dengan cepat dan efektif. “Pemerintah kota tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan sendiri tanpa adanya laporan dari masyarakat,” tambahnya.
Partisipasi Seluruh Elemen Masyarakat
Eri Cahyadi juga mengajak semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan kelompok keagamaan, untuk aktif terlibat dalam pendampingan program Kampung Pancasila. Keberhasilan Surabaya dalam mengatasi berbagai masalah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada gotong royong masyarakat.
Keterlibatan dalam Mewujudkan Surabaya Sejahtera
“Mari kita bergandeng tangan untuk menjadikan Surabaya sejahtera, bukan hanya karena wali kotanya, tetapi karena kolaborasi dari semua elemen masyarakat,” tegas Eri.
Menghadapi Tantangan dengan Gotong Royong
Kepala Satuan Tugas Kampung Pancasila, Irvan Widyanto, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di tingkat RW dengan menekankan pada nilai gotong royong. “Kampung Pancasila adalah tentang bagaimana semua lapisan masyarakat berkolaborasi untuk kesejahteraan bersama,” ungkap Irvan.
Refleksi dari Pengalaman Masa Pandemi
Irvan juga menyoroti bahwa ide Kampung Pancasila terinspirasi dari pengalaman masyarakat Surabaya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pada masa tersebut, nilai-nilai gotong royong muncul secara alami di tengah masyarakat tanpa menunggu arahan dari pemerintah.
Filosofi Kampung Pancasila
Pengalaman tersebut kemudian dirumuskan oleh Wali Kota Eri menjadi filosofi Kampung Pancasila, yang bertujuan untuk memperkuat solidaritas sosial di tingkat RW sebagai upaya membantu warga yang membutuhkan. Program ini mencakup berbagai masalah, mulai dari pencegahan stunting dan gizi buruk, akses pendidikan bagi anak, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Peran ASN dalam Melaksanakan Program
Sebagai langkah konkret dalam penguatan Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya menugaskan sekitar 12.000 ASN untuk mendampingi masyarakat di 1.361 RW. Dengan melibatkan ASN dan pemuda setempat, diharapkan program ini dapat dijalankan dengan efektif dan memenuhi kebutuhan warga secara langsung.
Pilar Utama Kampung Pancasila
Kampung Pancasila dibagi menjadi empat pilar utama, yaitu lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Irvan menekankan bahwa kunci keberhasilan program terletak pada keterlibatan semua elemen masyarakat tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang lainnya.
- Pilar lingkungan: pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan.
- Pilar kemasyarakatan: meningkatkan solidaritas antarwarga.
- Pilar ekonomi: pemberdayaan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.
- Pilar sosial budaya: memperkuat nilai-nilai budaya dan toleransi.
- Pilar pendidikan: akses pendidikan yang merata bagi anak-anak.