Lead Institute Paramadina: Mengubah Cinta di Era Digital Menjadi Solidaritas Sosial yang Kuat

Di era digital yang berkembang pesat, cinta sering kali terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh pencitraan dan kebutuhan untuk divalidasi. Banyak individu saat ini merasa tertekan untuk selalu menunjukkan kebahagiaan dan daya tarik di media sosial, menciptakan hubungan yang tampaknya instan namun sebenarnya rapuh.
Memahami Cinta di Era Digital
Dalam dunia yang serba cepat ini, warganet mengalami dinamika hubungan yang semakin rentan, mudah berubah, dan dipengaruhi oleh berbagai tren yang bersifat sementara. Fenomena seperti flexing dan ketakutan akan ketinggalan tren (FOMO) sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat digital.
Menemukan Makna di Balik Kajian Cinta
Isu-isu ini menjadi fokus dalam Kajian Filsafat dan Agama 2026 Seri Kedua dengan tema “Hubbud-Dunya di Era Digital” yang diadakan oleh The Lead Institute Universitas Paramadina. Acara tersebut berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2025, bekerja sama dengan MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation.
Dimoderatori oleh Nurma Komala, seorang peneliti di The Lead Institute, kajian ini menelusuri tema cinta dari dua perspektif besar. Yang pertama adalah cinta sebagai seni, seperti yang dijelaskan oleh filsuf Madzhab Frankfurt, Erich Fromm, dalam karyanya yang terkenal, *The Art of Loving*. Perspektif kedua adalah cinta sebagai jalan spiritual menuju Tuhan, berdasarkan pemikiran cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, atau Cak Nur.
Pandangan Erich Fromm tentang Cinta
Yayah Khisbiyah, seorang dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta, menjelaskan pandangan Erich Fromm bahwa cinta adalah seni yang perlu dipelajari dan dilatih. Fromm berpendapat bahwa manusia modern sering terjebak dalam usaha untuk terlihat layak dicintai, namun melupakan pentingnya belajar cara mencintai.
“Cinta, menurut Fromm, bukanlah kepemilikan atau hubungan transaksional. Ia merupakan tindakan aktif yang ditandai oleh perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan terhadap orang lain,” jelas Yayah, yang juga merupakan aktivis Muhammadiyah.
Hubungan Antarmanusia dalam Budaya Digital
Di tengah budaya pencitraan dan kebutuhan akan validasi sosial, hubungan antarmanusia sering kali menjadi dangkal. Banyak individu yang mengejar pengakuan di media sosial, tetapi kehilangan kedekatan sosial yang sehat dan bermakna.
Menurut Yayah, cinta seharusnya dipahami sebagai seni aktif yang membutuhkan latihan, perhatian, tanggung jawab, dan rasa hormat. Cinta yang sejati akan terwujud dalam tindakan nyata untuk membantu kelompok-kelompok yang marjinal, rentan, dan terpinggirkan.
Cinta sebagai Energi Positif
“Cinta dalam konteks kemanusiaan universal bukan hanya emosi pribadi, tetapi harus dimaknai sebagai energi positif yang membangun hubungan melalui tindakan-tindakan yang merawat kehidupan sosial dan kelestarian lingkungan,” ungkap Yayah.
Sementara itu, Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, menyoroti pemikiran Cak Nur yang memandang cinta sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, atau taqarrub ilallah. Dalam konteks ini, manusia perlu waspada terhadap hubbud-dunya, yaitu kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan simbol-simbolnya, seperti harta, popularitas, dan kesenangan yang bersifat sementara.
Budaya Flexing dan Kecanduan Digital
Suratno menjelaskan bahwa di era digital, bentuk baru dari cinta duniawi terlihat dalam budaya flexing, kecanduan pada perangkat gawai, dorongan untuk mengejar viralitas, serta kebutuhan untuk mendapatkan validasi. Menurutnya, fenomena ini dapat dianggap sebagai “penyakit rohani modern” yang perlu diatasi.
“Cak Nur menekankan bahwa cinta bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga merupakan energi moral dan spiritual yang membimbing manusia untuk lebih jernih, lembut, dan bertanggung jawab terhadap sesama,” tambah Suratno, yang merupakan alumni Universitas Goethe Frankfurt, Jerman.
Membangun Cinta yang Sehat
Suratno juga menegaskan bahwa cinta yang sehat tidak terbatas pada perasaan individual. Cinta juga harus tercermin dalam sikap hidup, akhlak sosial, dan kepedulian terhadap kemanusiaan. “Itulah cinta sejati,” tegasnya.
Walaupun berasal dari disiplin yang berbeda, baik Erich Fromm maupun Nurcholish Madjid sepakat untuk menolak egoisme dan cinta yang dangkal. Keduanya melihat cinta sebagai kekuatan aktif yang bukan hanya memerdekakan individu, tetapi juga membangun kedewasaan dan menumbuhkan solidaritas sosial.
Aktif dan Berkomitmen dalam Cinta
“Fromm dan Cak Nur sepakat bahwa cinta bukanlah emosi pasif yang datang dan pergi. Cinta adalah seni aktif, yang membutuhkan tindakan sadar dan komitmen,” ujar Suratno, menekankan pentingnya untuk tidak hanya merasakan cinta, tetapi juga untuk mengaktualisasikannya dalam tindakan yang nyata.
Dalam menghadapi cinta di era digital, kita dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan menghindari kecenderungan untuk terjebak dalam ilusi. Dengan memahami cinta sebagai seni yang memerlukan latihan dan pengorbanan, kita dapat membangun solidaritas sosial yang lebih kuat dalam masyarakat yang semakin terhubung secara digital.
Adalah tanggung jawab kita untuk menjadikan cinta sebagai kekuatan yang menggerakkan perubahan positif. Melalui tindakan nyata dan komitmen untuk saling mendukung, kita dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan penuh kasih.
Jadi, mari kita lihat cinta di era digital bukan hanya sebagai fenomena personal, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dalam dan bermakna. Dengan demikian, cinta dapat menjadi jembatan menuju solidaritas sosial yang kuat, yang bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat.





